Siapa pun pasti terpikat dengan keindahan alam Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mempesona. Gugusan pulau dengan deretan bukit yang elok dan eksotisme laut biru sejauh mata memandang menghiasi wilayah timur Indonesia ini. Tak terkecuali di desa Koja Gete, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, NTT.
Keindahan alam bahari di desa Koja Gete sangat bagus, pesona surga bawah lautnya juga tak kalah menarik, kabar gembira bagi para traveler yang hobi snorkeling. Selain wisata alam laut, para traveler juga dapat mengunjungi destinasi lain seperti jembatan batu dan bukit batu purba yang pesonanya tidak kalah keren. Konon katanya, dari atas bukit batu setinggi 30 meter tersebut kita dapat melihat seluruh pemandangan perkampungan Koja Besar sambil menikmati sunset atau pun sunrise yang menghiasi cakrawala. Sungguh menakjubkan!
Namun siapa sangka di balik keindahan alamnya, desa Koja Gete juga menyimpan kisah memilukan? Pembatasan penggunaan listrik masih menjadi masalah, mobilitas kendaraan tergolong sulit, krisis air bersih dan sanitasi juga kerap terjadi di daerah pesisir pantai tersebut. Satu hal yang membuat saya tersentuh adalah, masyarakat di desa Koja Gete jarang sekali menikmati daging kurban ketika hari raya Idul Adha Tiba.
Masih segar di ingatan saya memori tentang penyembelihan 7 ekor sapi di kampung halamanku ketika hari raya kurban beberapa bulan lalu. Semua warga di kampungku bersuka cita karena kebagian daging kurban. Beberapa kelompok anak muda sepertiku bahkan sengaja berkumpul untuk merayakan pesta bakar sate. Tapi ternyata di belahan bumi yang lain masih ada masyarakat yang sama sekali tidak menyantap daging kurban.
Saya mencoba menggali lebih dalam kenapa masyarakat di desa Koja Gete jarang menerima distribusi daging kurban setiap tahunnya. Usut punya usut, mayoritas warga Koja Gete tergolong masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Sehingga untuk membeli hewan kurban adalah di luar batas kemampuan finansial mereka. Fakta ini didukung oleh data Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang) Kabupaten Sikka tahun 2022 yang menyebutkan bahwa sekitar 105. 814 jiwa warga kabupaten Sikka masuk kategori miskin ekstrem. Termasuk 460 KK di desa Koja Gete. Hal ini berarti, membeli hewan kurban adalah suatu kemewahan bagi mereka.
Akan tetapi orang-orang baik di Indonesia tidak menutup mata dengan kondisi tersebut. Bantuan hewan kurban dari luar daerah pernah mewarnai kemeriahan hari raya kurban di desa Koja Gete, seperti halnya yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa pada tahun 2024 ini. Beberapa relawan Dompet Dhuafa NTT bahkan terjun langsung ke desa Koja Gete untuk mengeksekusi pembagian hewan kurban kepada masyarakat setempat. Kebahagiaan tergambar jelas pada raut wajah warga ketika memperoleh daging kurban. Cuplikan aksi peduli sesama tersebut dapat kita tonton pada video berikut!
Dalam tayangan tersebut, Kiki, seorang relawan dari Dompet Dhuafa berkisah bahwa masyarakat desa Koja Gete sangat sulit untuk memperoleh daging sapi. Warga setempat hanya mengonsumsi daging sapi sebanyak dua kali setahun, yakni ketika ada penyaluran hewan kurban atau ada pesta besar-besaran di kampung tersebut, itu pun kalau kebagian.
Hanya rasa getir di dada ketika saya mendengar cerita tersebut. Menyaksikan warga desa Koja Gete hidup dalam keterbatasan namun tetap mampu menjalani hari-hari dengan senyuman. Ketika ada relawan yang berkunjung ke desa mereka untuk berbagi sedikit kebahagiaan, mereka menyambutnya dengan sangat antusias. Suatu aroma yang jarang mereka rasakan diwujudkan dalam bentuk daging kurban oleh Dompet Dhuafa.
Peran Dompet Dhuafa
Kini, sudah #31TahunDompetDhuafa Melayani Masyarakat melalui berbagai program gebrakan untuk kesejahteraan ummat.
Untuk Program Tebar Hewan Kurban mulai dicanangkan pada tahun 1994. Seiring berjalannya waktu, program Tebar Hewan Kurban bahkan mampu menyisir daerah-daerah pelosok yang sulit dijangkau untuk mendistribusikan hewan kurban.
Dilansir dari laman resmi Dompet Dhuafa, ada beberapa kriteria daerah yang menjadi titik utama Tebar Hewan Kurban yakni, daerah terpencil dan terluar yang minim akses persebaran daging kurban, wilayah terdampak bencana, wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi, dan wilayah krisis kemanusiaan.
Penjelasan data di samping ini membantu kita untuk mengetahui sejauh mana persebaran masyarakat penerima manfaat dari program Tebar Hewan Kurban yang dilaksanakan oleh Dompet Dhuafa pada tahun 2024.
Upaya dompet dhuafa dalam #BelajarMelayani melalui program Tebar Hewan Kurban sangat disambut baik oleh masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada banyaknya jumlah hewan kurban yang disalurkan dan luasnya titik lokasi pendistribusiannya.
Pak Malik selaku kepala desa Koja Gete juga menyampaikan apresiasinya kepada Dompet Dhuafa yang telah mendistribusikan daging kurban untuk masyarakat desa Koja Gete sehingga warganya dapat merasakan nikmatnya daging kurban dan merayakan kebahagian bersama keluarga pada hari raya Idul Adha sambil menikmati santapan daging sapi yang lezat.
Bagi masyarakat yang hidup serba berkecukupan, menikmati daging kurban mungkin bukanlah hal yang luar biasa. Namun bagi mereka yang tinggal jauh di daerah terpencil dan jarang menyicipinya, potongan daging kurban dari Dompet Dhuafa merupakan berkah yang dapat mengukir senyuman lebar di wajah anak – anak maupun anggota keluarga mereka.
Jika Dompet Dhuafa rutin menyalurkan hewan kurban setiap tahun melalui program Tebar Hewan Kurban, kini saatnya kita ikut berkontribusi dengan cara menyisihkan sebagian rezeki kita untuk donasi dan sedekah melalui Dompet Dhuafa, agar dapat mengukir lebih banyak lagi senyuman di wajah masyarakat yang membutuhkan seperti di desa Koja Gete NTT.
Melalui Dompet Dhuafa, kita juga dapat membayar zakat secara online jika suatu saat terkendala jarak dan waktu untuk menunaikan rukun islam yang ketiga ini. Dengan tageline 30 Hari Jadi Manfaat, Dompet Dhuafa memanggil siapa pun yang ingin mewujudkan misi dalam memberdayakan masyarakat dhuafa untuk ikut berpartisipasi. Informasi mengenai tata cara donasi, zakat, sedekah, wakaf, dan kurban dapat kita akses pada link berikut ini.
Selamat menebar kebaikan teman-teman!
*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog 31 Tahun Dompet Dhuafa Melayani Masyarakat.
