Semakin Dekat Dengan Pelanggan, Pelaku UMKM Manfaatkan Marketplace
Era digital membuat sebagian besar aktivitas jadi serba mudah. Digitalisasi memberikan kita akses tak terbatas untuk menembus batas yang dulu tidak pernah terbayangkan...

Sadar atau tidak, era digital membuat sebagian besar aktivitas jadi serba mudah. Digitalisasi memberikan kita akses tak terbatas untuk menembus batas yang dulu tidak pernah terbayangkan. Sebut saja belanja online, yang kini menjadi aspek tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat kekinian. Hanya dengan ketukan jari, kita leluasa memilih produk yang diinginkan dan melakukan transaksi secara online. Mudah, efektif, dan efisien, itulah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan keistimewaan belanja online.

Berbagai marketplace pun kian menjamur seiring berkembangnya teknologi. Di Indonesia, ada beberapa e-commerce yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk berbelanja online, diantaranya ada Shopee, Tokopedia, Lazada, Bukalapak, dan Blibli. Selain itu jejaring sosial seperti Facebook, Instagram, dan Tiktok juga tidak mau ketinggalan untuk menawarkan kemudahan berbelanja kepada para penggunanya dengan meluncurkan social commerce berupa fitur Facebook Store, Instagram Shooping, dan Tiktok Shop. Semakin menambah daftar pilihan marketplace untuk berbelanja online.

Sejak platform e-commerce bernama Shopee diluncurkan di Indonesia pada tahun 2015 silam, kebiasaan masyarakat Indonesia untuk belanja online semakin meningkat. Hal ini ditandai oleh sebanyak 178,9 juta masyarakat Indonesia memilih belanja online sepanjang tahun 2022 hingga awal tahun 2023, angka tersebut naik sekitar 12,8% secara year on year (cnbcindonesia/15/2/2023).

Meningkatnya arus belanja online di Indonesia berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang memanfaatkan marketplace untuk memasarkan produk dagangannya. Tahun 2022, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEa) mencatat jumlah UMKM yang go-digital sebanyak 21,8 juta unit. Naik sekitar 170.31% dari tahun 2019. Pemerintah bersama Kemenkop UMK pun optimis menggagas tajuk 30 juta unit UMKM go-digital pada tahun 2023. Target tersebut diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan transformasi UMKM Indonesia di dunia digital. Ujungnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan negara dan kemudahan akses berbelanja masyarakat.

Daya Tarik Marketplace

Bagi pelaku UMKM, memasarkan produk lewat marketplace tidak hanya memangkas biaya operasional tapi juga dapat menjangkau jarak yang tak tertempuh. Para produser kain tenun sasak Lombok misalnya, mulannya mereka hanya menjual kain tenun sasak kepada wisatawan yang berkunjung di Desa Sade tanpa punya pilihan lain untuk memasarkan produknya di lain tempat. Itu pun tidak semua wisatawan tertarik untuk membeli, karena yang namanya wisatawan pasti tujuan utamanya datang untuk berwisata, mengenal budaya sasak, dan mendokumentasikan perjalanan dengan foto-foto. Dalam satu rombongan wisatawan, hanya sedikit yang tertarik membeli kerajinan sebagai buah tangan.

Akan tetapi seiring berkembangnya zaman, para produser atau pelaku UMKM kerajinan di Desa Sade mulai mengenal marketplace, merambah dunia digital untuk berjualan. Mereka mempelajari kreativitas baru bagaimana memasarkan produk di e-commerce dan beradaptasi dengan dunia digital. Dari sekian banyak marketplace, para pelaku UMKM kerajinan di Desa Sade lebih banyak memanfaatkan platform Shopee dan sosial media seperti Facebook, Instagram, dan Tiktok untuk memasarkan produknya.

Hasilnya? Penjualan menanjak drastis. Dari yang sebelumnya hanya mengandalkan wisatawan untuk membeli, sekarang peminatnya jauh lebih luas bahkan menjangkau luar negeri. Jarak yang dulu jadi masalah, kini bisa diatasi hanya dengan ketukan jari. Batas dan ruang antara penjual dan pembeli bukan lagi sekat dinding bangunan melainkan layar gawai.

Sebelum mengenal marketplace, pendapatan pelaku UMKM di Desa Sade hanya berkisar 100 – 250 ribu sehari, atau sekitar 3 – 7,5 juta pendapatan kotor perbulan. Sekarang dengan bantuan marketplace, mereka bisa menjual lebih banyak produk kerajinan dan meraup pendapatan bersih rata-rata 10 juta perbulan. Hadirnya marketplace tentu memberikan keuntungan tersendiri untuk mengenalkan budaya sasak Lombok ke berbagai penjuru negeri.

Setidaknya ada 4 faktor atau aspek penting kenapa para pembeli memilih belanja di marketplace, yakni (1) Praktis, pembeli tidak perlu jauh-jauh ke pasar atau mall jika mencari produk yang diinginkan karena semua ada dalam genggaman tangan; (2) Mudah, tinggal klik, selesai, tidak repot lagi menukar uang atau menunggu kembalian jika tidak membayar dengan uang pas; (3) efisien dan efektif, pembeli bisa berbelanja sambil melakukan aktivitas lain misalnya menyantap makanan, istilahnya gawai di tangan kiri, sendok di tangan kanan; (4) nyaman, bagi pembeli yang tidak terlalu suka banyak berinteraksi dengan orang lain, memilih untuk belanja online adalah pilihan yang tepat karena ketika melakukan transaksi pembeli hanya berhadapan dengan layar gawai.

UMKM Indonesia Siap Meroket

Beberapa bulan lalu, Kementerian Luar Negeri melaporkan salah satu upaya konkret untuk mendukung penguatan kapasitas UMKM Indonesia adalah dengan mewujudkan kerjasama dengan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). Ini merupakan gebrakan kerjasama internasional yang inklusif untuk memberikan panggung kepada para pelaku UMKM lokal agar mendunia.

Sebagai pilar ekonomi nasional, pemerintah terus mendorong UMKM untuk melambung tinggi. Setelah gencar mengampanyekan UMKM go-digital, kini waktunya untuk menggengjot UMKM go-global, tentu dengan bantuan digitalisasi untuk meningkatkan daya saing.

Produk-produk UMKM Indonesia yang memiliki kualitas memadai dinilai lebih dari layak untuk bersaing di pasar internasional dengan nilai jual yang tinggi. Selain UMKM bidang kerajinan seperti kain tenun sasak Lombok, masih banyak UMKM yang perlu mendapat perhatian dan dukungan publik, seperti UMKM bidang kuliner, UMKM produk kecantikan, UMKM agribisnis, hingga UMKM bidang kesehatan. Maju terus UMKM Indonesia.

Terimakasih sudah membaca, semoga bermanfaat ya 🙂