Dalam hidup, kita dihadapkan dengan berbagai persoalan dan itu lumrah terjadi. Akan tetapi seringkali permasalahan yang kita hadapi mengganggu pikiran secara berlebihan, memicu emosi yang campur aduk hingga kita bersusah hati, kita dibuat gelisah dan cemas bahkan hanya untuk hal yang belum tentu terjadi. Di sinilah kemampuan kita untuk mengompromikan perasaan dengan kenyataan diuji.
Kita perlu melatih diri untuk selalu berlapang dada jika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Meski situasi tersebut kadang sulit diatasi, ada baiknya kita belajar untuk mengelola ekspektasi terhadap apa pun yang kita lalui, terutama dalam hubungan antar manusia, bekerja, menikah, dan memiliki anak.
Buku Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan ini pun dapat menjadi referensi menarik yang dapat membantu kita untuk berdamai dengan segala persoalan hidup yang kurang menguntungkan. Banyak hal mendasar yang perlu kita kaji kembali agar dapat mengatasi tantangan kehidupan sehari-hari sekaligus menemukan motivasi untuk meningkatkan kualitas kedamaian hidup kita.
Panduan inspiratif tersebut sudah dituangkan secara apik dengan gaya bahasa yang ringan serta mudah dipahami oleh pembaca dalam buku ini. Penulis menjadikan kisah hidup Dokter Tsuneko Nakamura, seorang Psikiater Jepang yang sudah bekerja selama delapan puluh sembilan tahun sebagai latar cerita yang mendasari lahirnya buku ini.
Judul : Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan
Cara Mengompromikan Perasaan dengan Kenyataan
Penulis : Tsuneko Nakamura dan Hiromi
Okuda
Alih Bahasa : Faizal
Desain Sampul : Isran Febrianto
Tata Letak
Isi : Fajarianto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Halaman : 174
“Manusia biasanya akan cenderung memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan ketika memiliki waktu luang. Lalu merisaukan apa yang sebenarnya tidak perlu dirisaukan. Atau ikut campur pada hal yang tidak perlu. Waktu luang bisa menjadi racun bagi manusia. Untuk itu, sebaiknya kita menyibukkan diri secukupnya.” (hlm. 10)
“Jangan berpikir berlebihan, bergembiralah, dan nikmati ketika mendapatkan hal yang menyenangkan. Kalau ada hal yang harus dikerjakan, lakukan saja dengan ringan.”(hlm. 22)
“Tidak menaruh harapan menjadi hal penting dalam hubungan manusia.” (hlm. 33)
“Jika suatu saat nanti anda mendapatkan pengalaman yang berat, saat itu juga bisa berarti masa untuk belajar cara pandang dari sesuatu yang baru.” (hlm. 71)
Salah satu inti dari buku ini adalah menjelaskan formula untuk menenangkan hati agar hidup senantiasa tenang sehari-hari. Dokter Tsuneko menekankan pentingnya memusatkan perhatian pada apa yang ada di depan mata saat ini tanpa mengkhawatirkan masa depan maupun mecemaskan masa lalu. Kita perlu menghadirkan kesadaran bahwa tak seorang pun tahu apa yang terjadi di masa depan, begitu pun sebaliknya, kita tidak bisa mengulang masa lalu. Kita cuma perlu memikirkan hidup kita hari ini sebagai fokus utama.
Artikel Terkait: Bicara Itu Ada Seninya, Sebuah Resensi
Melalui buku ini kita juga akan mendapatkan pemahaman tentang bagaimana menjalani dua hal secara seimbang, menaruh harapan, dan menjalin hubungan antar manusia. Sebagai Psikiater yang hampir setiap hari mendengarkan keluhan pasien, dokter Tsuneko membeberkan rahasia terbesar untuk menjadi tetap waras di tengah-tengah jalinan hubungan antar manusia yang seringkali terjadi perselisihan.
Dengan mengubah rasa jarak hati, memungkinkan kita dapat menjaga hubungan baik dengan siapa pun. Dokter Tsuneko sendiri tidak pernah merasa lebih dekat atau lebih jauh dengan siapa pun di lingkungan sosial. Untuk itulah ia tidak pernah berselisih serta selalu menjaga integritasnya dalam hubungan antar sesama. Inilah strategi untuk menjalani hidup tanpa berpikir berlebihan, menemukan kedamaian dalam jarak hubungan.
Dengan pengalaman dan wawasan yang disajikan, buku ini menawarkan berbagai cara praktis yang autentik untuk membantu kita mengelola pikiran agar dapat menjalani hidup yang bermakna. Jika selama ini teman-teman seringkali berpikir berlebihan, buku Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan ini bisa menjadi pegangan yang tepat.
