Pada 17 Agustus 2019 lalu Bank Indonesia resmi meluncurkan Quick Response Code Indonesian Standar (QRIS). Setidaknya ada dua keuntungan mendasar ketika menggunakan QRIS dalam transaksi pembayaran digital, yaitu mempercepat proses pembayaran dan meningkatkan keamanan transaksi. Dua manfaat itu penting mengingat selama ini penjual dan pembeli seringkali kerepotan membawa uang tunai dan mencari kembalian ketika melakukan transaksi, sehingga dengan adanya QRIS menjadikan transaksi lebih praktis sekaligus lebih aman karena QRIS dapat menghindari resiko beredarnya uang palsu, kehilangan uang, maupun penipuan.
Kata kunci untuk menyambut QRIS dengan segala keunggulannya ini ialah, bagaimana kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk menggunakan QRIS sebagai alat transaksi digital. Apalagi saat ini kian marak hadirnya e-wallet dan e-commerce. Hasil analisis Redseer Strategy Consultant menilai tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) e-wallet di Indonesia bisa mencapai 31,5% pada tahun 2025. Sementara itu, penetrasi e-commerce di Indonesia terus meningkat, yakni mencapai 21,56% pada tahun 2023 dan diperkirakan akan terus berlanjut dengan proyeksi mencapai 38,84% pada tahun 2029 berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI.
Pertumbuhan tersebut memberikan signal positif untuk mengimplementasikan pembayaran digital dalam skala yang lebih luas, sebab rata-rata platform e-commerce di Indonesia menyediakan metode pembayaran digital yang otomatis terintegrasi dengan QRIS, dengan demikian QRIS akan semakin membumi jika semua pelanggan e-commerce memilih metode pembayaran digital.
Kita dapat mencontoh Tiongkok yang hampir seratus persen masyarakatnya menggunakan QR Code saat melakukan berbagai macam transaksi. Di Negara Tirai Bambu tersebut, transaksi dengan QR Code sangat populer, jangankan pedagang bahkan pengemis di pinggir jalan pun sudah ada yang menyediakan QR Code untuk menerima sumbangan digital. Ini menandakan seluruh kalangan SDM Tiongkok mulai meninggalkan cara-cara tradisional lalu beradaptasi dengan sistem pembayaran digital yang modern.
Atau kita bisa menoleh sedikit ke negara tetangga, Singapore. Penggunaan Singapore QR Code (SGQR) kian meluas untuk berbagai keperluan, mulai dari pembayaran jajan di pedagang kaki lima hingga proses imigrasi di perbatasan, semua hanya dilakukan dalam satu ketukan jari. Mudah, cepat, dan aman, itulah jargonnya.
Kehadiran QRIS di Indonesia harus kita respon dengan peningkatan pemahaman dan literasi digital SDM untuk mempercepat adopsi sistem pembayaran non-tunai dalam berbagai aspek. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan, sosialisasi, dan pendampingan kepada SDM yang kesulitan beradaptasi dengan sistem pembayaran digital. Salah satu indikatornya dapat dilihat dari Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) pada tahun 2024 hanya mencapai 43,34 yang menurut sejumlah pakar bahwa hasil tersebut menunjukkan SDM Indonesia belum sepenuhnya fasih dalam mengadopsi teknologi digital untuk meningkatkan aktivitas ekonomi.
Strategi
Pemerintah perlu memberikan perhatian ekstra untuk meningkatkan IMDI khususnya di daerah-daerah yang diprioritaskan dalam konteks ekonomi dan pembangunan seperti wilayah Sekarkijang yang meliputi Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang. Peningkatan IMDI ini tentu bisa berdampak pada akselerasi ekonomi dan keuangan digital.
Di Sekarkijang, pertumbuhan UMKM cukup pesat, apalagi sejak diluncurkannya QRIS. Data Bank Indonesia Jember mencatat sejumlah 349,619 UMKM telah menggunakan QRIS hingga September 2023. Di samping itu, secara keseluruhan jumlah pengguna QRIS mencapai 40.05 juta dengan total nilai transaksi sebesar 920 miliar di tahun yang sama. Jumlah transaksi digital ini diprediksi akan meningkat seiring bertambahnya jumlah penggunaan QRIS.
Upaya peningkatan IMDI di Sekarkijang harus dilakukan secara komprehensif, sebab penggunaan QRIS memerlukan kemahiran teknologi. Masyarakat harus dibiasakan untuk beradaptasi dengan sistem baru. Setidaknya ada tiga strategi yang diperlukan. Pertama, peningkatan literasi digital melalui platform media sosial yang biasa diakses oleh masyarakat, seperti Instagram, Tiktok, Facebook, Whatsapp, dan Youtube. Hanya media sosial yang mampu menjangkau jumlah SDM dalam skala besar, sebab platform ini menawarkan akses yang mudah, cepat, dan tranding.
Apalagi pelaku UMKM di Sekarkijang tidak hanya berpaku pada e-commerce semata, namun juga mengandalkan sosial media untuk mempromosikan dagangannya. Konten yang menarik, fitur live, dan menggunakan jasa influencer menjadi cara strategis bagi pelaku UMKM untuk membranding produknya.
Kedua, peningkatan akses infrastruktur digital. Strategi ini penting mengingat kesenjangan digital antar wilayah masih signifikan, terutama wilayah perkotaan dengan pedesaan. Pemerataan dan peningkatan kualitas konektivitas internet di Indonesia masih terus dikembangkan. Dengan adanya akses internet yang merata, maka arus informasi dan pengetahuan akan lebih mudah diperoleh berbagai kalangan.
Ketiga, pengembangan kompetensi digital dengan memberikan pelatihan klasikal maupun non-klasikal, serta pendidikan lanjutan berupa kursus dan sertifikasi. Strategi ini tidak kalah penting sebab dapat meningkatkan produktivitas dan kreativitas, yang hasilnya nanti dapat berkontribusi bagi akselerasi perekonomian di Sekarkijang.
Beberapa strategi yang telah dipaparkan tersebut merupakan upaya langsung untuk meningkatkan IMDI dan sangat diperlukan di era digital ini. Tentu tidak menutup kemungkinan bisa dilengkapi dengan strategi lainnya yang relevan. Namun tetap perlu dicatat bahwa melek digital adalah kunci sukses dalam segala lini kehidupan di era digital ini. Termasuk dalam upaya peningkatan daya saing bagi pelaku UMKM di pasar digital. Dengan menggunakan QRIS sebagai alat transaksi digital, harapannya UMKM di Sekarkijang juga makin berdaya.[*]
Terimakasih sudah membaca, semoga bermanfaat ya 🙂
