Geliat Ekonomi Kreatif Masyarakat Pesisir Memanfaatkan Olahan Kelapa
Di Indonesia, tanaman kelapa banyak ditemukan di wilayah pesisir. mengingat tumbuhan ini cukup ikonik dengan lingkungan tropis...

Menarik, jika mengikuti pemberitaan media-media yang mulai menyorot wilayah pesisir seiring populernya istilah “ekonomi kreatif” yang digencarkan oleh pemerintah melalui berbagai program dan kebijakan. Kita dapat menyaksikan potensi wilayah pesisir dengan keragaman sumber daya yang memiliki nilai ekonomis. Tak hanya wisata bahari, namun juga keanekaragaman hayati tak luput dari sorotan, varietas kelapa salah satunya.

Di Indonesia, tanaman kelapa banyak ditemukan di wilayah pesisir. mengingat tumbuhan ini cukup ikonik dengan lingkungan tropis. Beberapa daerah penghasil kelapa terbanyak adalah Riau, Sulawesi Utara, dan Jawa Timur (Alouw dan Wulandari, 2020). Jenis kelapa yang ditanam pun cukup beragam. Di daerah-daerah pesisir pantai seperti Sumbawa dan Nabire, sangat mudah ditemui tanaman kelapa varietas ganjah, mastutin, dan kelapa dalam. Kelapa merupakan salah satu komoditas unggulan wilayah pesisir karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Potensi nilai tambah dan daya saing produk kelapa memberi kontribusi besar bagi subsektor perkebunan sebagai penyumbang dalam penerimaan devisa negara melalui ekspor.

Ekspor kelapa segar dan produk turunannya disinyalir mampu mengoptimalisasi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, sebab semua bagian tanaman kelapa dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun budaya. Bahkan lebih luas lagi, tanaman kelapa memiliki manfaat ekologis bagi masyarakat pesisir karena dapat melindungi pantai dari abrasi dan ombak besar yang berpotensi merusak lingkungan. Fakta ini semakin mengokohkan identitas kelapa sebagai tanaman yang multiguna.

nbrelkg

Lantas seperti apa inovasi produk dari kelapa yang mampu membangun struktur ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir? Bagaimana strategi pemasarannya agar meraup nilai ekonomis yang tinggi? Dan apa tantangannya dalam meningkatkan kapasitas produksi serta pendapatan petani kelapa di wilayah pesisir? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dielaborasi dalam tulisan ini.

Inovasi Produk Olahan Kelapa

Produk turunan dari kelapa sangat bervariasi. Buah, batang kelapa, dan lidi kelapa dapat dikelola menjadi sumber pendapatan dan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha (Hestina et al, 2022). Beragamnya olahan produk kelapa salah satunya telah terkonfirmasi dalam kajian United Nation Development ProgrammeInternational Labour Organization (UNDP-ILO) tahun 2013 terkait pendekatan rantai nilai dan iklim usaha kelapa di kabupaten Sarmi.

Dalam kajiannya, UNDP-ILO menemukan bahwa buah kelapa yang terdiri dari air kelapa dapat diolah menjadi nata decoco, coco vinegar, kecap air kelapa dan minuman dari kelapa. Sedangkan daging kelapa diolah menjadi desiccated oil, cocomix, virgin coconut oil, skim milk, coco shake, coco cake, santan instan, kopra, minyak kelapa mentah, minyak goreng, bungkil, coco chemical, arang kelapa, dan karbon aktif. Sementara itu sabut kelapa, batang kelapa dan bagian lainnya dapat diolah menjadi bahan furnitur maupun bahan bangunan.

Sama halnya dengan masyarakat pesisir yang berada di Sumbawa dan Nabire yang menciptakan inovasi produk olahan dari kelapa sebagai penunjang ekonomi kreatif di wilayah tersebut. Di Sumbawa, buah kelapa diolah menjadi minyak jereweh, yang disebut juga sebagai minyak urut tradisional yang memiliki khasiat kesehatan. Berbagai macam penyakit seperti pegal linu, reumatik, keseleo, luka-luka ringan, gatal-gatal, sakit pinggang serta sakit otot dapat diredakan dengan minyak jereweh.

Masyarakat Sumbawa memanfaatkan santan kelapa dengan tambahan rempah-rempah dan lumut sebagai bahan utama pembuatan minyak jereweh. Inovasi produk dari kelapa ini merupakan warisan leluhur masyarakat Sumbawa. Minyak jereweh adalah bentuk kekayaan budaya yang masih lestari hingga kini.

nwtrwl

Namun tak hanya santan kelapa yang dimanfaatkan. Ampas kelapa yang tidak digunakan lagi kemudian diolah menjadi produk baru yang bernilai ekonomis agar tidak berakhir sebagai limbah yang dapat menyebabkan masalah lingkungan. Masyarakat Sumbawa menyulap ampas kelapa menjadi bolu kelapa kering. Tak hanya punya nilai jual, namun juga ramah lingkungan. Inovasi produk demikian semakin menggeliatkan ekonomi kreatif di Sumbawa.

Sebagai komoditas unggulan dari Papua Tengah, kelapa juga menopang kehidupan masyarakat pesisir di Nabire, khususnya masyarakat di pulau-pulau kecil. Bagi mereka, kelapa adalah sumber pendapatan utama yang menopang ekonomi keluarga. EcoNusa Foundation yang merupakan Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan mengonfirmasi hal ini dalam sebuah artikel yang dirilis pada 16/5/2025 bahwa masyarakat Nabire di wilayah pesisir tidak hanya menjual kelapa dalam bentuk buah segar dan air kelapa segar, akan tetapi juga diolah menjadi minyak kelapa murni dan kopra yang digunakan sebagai bahan baku industri minyak.

Bahkan limbah tempurung kelapa dan sabut kelapa, masing-masing diolah menjadi briket dan media tanaman. Semakin kreatif masyarakat pesisir mengolah semua bagian kelapa, maka potensi peningkatan nilai tambah semakin tinggi.

Pemasaran dan Kendala

Berkembangnya teknologi serta tingginya permintaan kelapa dan produk turunannya, memudahkan para petani kelapa dan pelaku usaha untuk memasarkan produknya. Kebanyakan hasil olahan kelapa dipasarkan secara digital melalui media sosial seperti facebook, instagram, tiktok, maupun e-commerce. Minyak jereweh dari Sumbawa dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia karena dipasarkan melalui media sosial. Penjualan minyak jereweh dapat menjangkau pasar nasional karena bantuan teknologi tersebut. Luasnya pemasaran sudah pasti berdampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

Selain memanfaatkan teknologi, produk olahan dari kelapa juga masih dijual secara konvensional melalui jaringan distribusi ke kota-kota besar maupun peluang ekspor ke luar negeri. Kopra dari Nabire misalnya tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, namun juga memasok kebutuhan untuk kota-kota besar seperti Palu dan Surabaya. Dalam hal ini diperlukan upaya pemerintah untuk menekan mahalnya biaya distribusi agar margin keuntungan yang diperoleh petani dan pelaku usaha kelapa tidak terlalu kecil akibat biaya transportasi yang membengkak.

Disamping itu, pemerintah juga perlu memperhatikan diversifikasi usaha serta peremajaan tanaman kelapa yang sudah tua dan kurang produktif dengan memberikan bantuan bibit kelapa yang baru dan berkualitas, perluasan lahan, obat pengendalian hama, serta memfasilitasi petani kelapa untuk meningkatkan skill pengolahan produk kelapa. Dengan demikian kendala yang dihadapi oleh petani kelapa maupun pelaku usaha dapat diatasi dengan mudah tanpa takut ketinggalan daya saing.

ditulis ole 2